Oleh: kreatifitasdircom | Juni 4, 2011

BERBAGAI PENDEKATAN DIDALAM MEMAHAMI AGAMA

Suber 1

Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampikan dalam kotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Dalam memahami agama banyak pendekatan yang dilakukan. Hal demikian perlu dilakukan, karena pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya.
Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma.
Untuk lebih jelasnya berbagai pendekatan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :
A. Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan lainnya. Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi, sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era kontemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis dan tradisionalis. Keempat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak mudah disatukan dengan begitu saja. Masing-masing mempunyai ”keyakinan” teologi yang seringkali sulit untuk didamaikan.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan lainnya sebagai salah.
Amin Abdullah mengatakan bahwa pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini.
Berkenaan dengan hal di atas, saat ini muncullah apa yang disebut dengan istilah teolgi masa kritis, yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiranm atas sumber-sumber aslinya dan tradisinya dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub : teks dan situasi; masa lampau dan masa kini.

B. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.

C. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian.
Dari dua definisi terlihat bahwa sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dan ilmu sosiologi.
Jalaluddin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif, menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut :
1). Pertama, dalam Alquran atau kitab-kitab hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus – untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalah sosial).
2). Kedua, bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.
3). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu shalat yang dilakukan secara berjemaah dinilai lebih tinggi nilainya daripada shalat yang dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
4). Keempat, dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tembusannya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
5). Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah.

D. Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha manutkan sebab dan akibat serta berusaha manafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam Kamus Umum Bahsa Indonesia, Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti ”adanya” sesuatu. Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sitemik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah.

E. Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

F. Pendekatan Kebudayaan
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat; dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sementara itu, Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kacakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya.

G. Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah jiwa yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjat, perilaku seseorang yang tampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Ilmu jiwa agama sebagaimana yang dikemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya.
Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan uasianya. Dengan ilmu agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya.

Suber 2


Merupakan hal yang baik jika orang memperlakukan agama bukan sebagai artefak dengan mendiamkannya sekaligus memeluk dan mempercayainya hanya dengan membeo pada otoritas tertentu, apalagi menghina atau menjelek-jelekan agama. Namun sebaliknya, berusaha mempelajari agama secara kritis. Oleh karena itu, merupakan sikap yang sangat bijak jika orang mau mempelajari agama, entah yang dianutnya maupun yang dianut orang lain secara kritis. Menurut saya ada beberapa pendekatan kritis yang sangat berguna guna untuk mempelajari agama. Setidaknya mereka yang mau berpikir kritis memilih salah satu dari sekian pendekatan yang ada jika hendak berusaha memahami dan menjelaskan agamanya dan/atau agama yang dianut orang lain. Berikut adalah beberapa pendekatan kritis menurut pandangan saya (urutan tidak berarti bahwa yang disebut lebih awal lebih kritis atau lebih baik daripada yang disebut setelahnya) :

a. Pendekatan melalui Sastra.
Umumnya agama memiliki kitab sucinya masing-masing yang dianggap sebagai salah satu otoritas tertinggi oleh para penganutnya. Kitab suci tersebut dipercaya sebagai tolok ukur moral yang mutlak dipercaya dan diteladani oleh orang-orang yang memeluk agamanya. Beberapa pertanyaan yang menjadi perhatian dalam pendekatan sastra adalah: Siapa yang menulis kitab suci atau kitab-kitab tertentu? Kapan, di mana, dan untuk siapa tulisan atau kitab tersebut ditulis? Apakah jenis tulisan tersebut? (Mempertanyakan jenre atau jenis sastra sebuah kitab atau tulisan; apakah, nabi-nabi, apokaliptik, kebijaksanaan, atau perumpamaan.) Apakah makna awal sebuah tulisan atau kitab itu? Bagaimana sebuah tulisan atau kitab mengalami penyebaran dan penafsiran dari masa ke masa?

b. Pendekatan melalui Sejarah.
Dalam pendekatan ini yang (harus) dilakukan orang adalah “menggali” berbagai data yang kemudian daripadanya dilakukan rekonstruksi untuk “menemukan” apa yang “sesungguhnya terjadi pada masa-masa tertentu”. Dalam pendekatan ini yang dilakukan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin data yang bisa ditemukan pada masa kin untuk memperoleh penjelasan dan kejelasan mengenai peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Oleh karena itu, pertanyaan- pertanyaan seperti: Siapa, kapan, di mana, dan mengapa sebuah teks ditulis? dan apakah konteks sosial, budaya, ekonomi, politik, dan alam? merupakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh orang-orang yang menggunakan pendekatan ini ketika berusaha mempelajari agama tertentu.

c. Pendekatan melalui Antropologi.
Hal paling utama yang menjadi perhatian dalam pendekatan ini adalah upaya memahami dan menjelaskan perilaku manusia dalam konteks hidupnya yang partikular atau masyarakat yang lebih luas. Bagaimana interaksi antar individu dalam sebuah kelompok masyarakat tertentu merupakan pertanyaan utama yang harus dijawab dan dijelaskan oleh setiap orang yang memakai pendekatan ini dalam upayanya mempelajari agama. Dengan demikian, hal yang hendak dijelaskan ketika orang menggunakan pendekatan ini adalah, apa sajakah fungsi/peran agama di kehidupan seorang individu dalam interaksinya dengan individu lainnya.

d. Pendekatan melalui Sosiologi.
Dalam pendekatan ini orang akan berusaha memahami dan menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan manusia dalam konteks yang lebih luas, seperti: kebudayaan, kehidupan keluarga, peran-peran jender, nilai-nilai moral/etika tertentu, ragam pengetahuan, dan intitusi-intitusi yang ada.

e. Pendekatan melalui Fenomenologi.
Tema yang menjadi perhatian dalam pendekatan ini adalah mencoba melihat dan menganalisis agama dalam pandangan para penganut/pemeluknya. Artinya, pendekatan ini berusaha memahami berbagai pengalaman dan apa arti pengalaman-pengalaman tersebut bagi orang-orang yang mengalaminya, dalam kaitannya dengan agama mereka.

f. Pendekatan melalui Psikologi.
Pendekatan ini mencoba membantu orang untuk melihat kedalaman sisi psikologis seseorang ketika mereka terlibat dalam segala hal yang berkaitan dengan agama yang dianutnya. Apakah agama yang dianut seseorang membuat orang tersebut lebih bahagia atau keras atau tenang atau sejahtera atau tertutup?

g. Pendekatan melalui Neurosains.
Dalam pendekatan yang dibantu oleh teknologi canggih ini orang meneliti otak manusia, bukan saja otak orang-orang yang beragama tetapi juga mereka yang tidak beragama atau tidak mempercayai adanya tuhan. Hal ini dilakukan untuk menemukan dan melihat berbagai reaksi fisik yang dapat dilihat secara kasat mata. Beberapa pertanyaan seperti: Bagian otak mana sajakah yang memberikan reaksi ketika kepada orang tertentu diberikan rangsangan atau pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan agama atau tuhan? dan apakah pengalaman-pengalaman keagamaan tertentu bisa dipicu oleh rangsangan yang diberikan kepada bagian otak tertentu? merupakan beberapa contoh pertanyaan yang selalu berusaha ditemukan jawaban dan penjelasannya melalui pendekatan ini.

About these ads

Responses

  1. I Like it………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: